Bencana hidrometeorologi kembali menguji ketangguhan infrastruktur di Sumatera Barat. Curah hujan tinggi yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November 2025 memicu longsor dan amblasnya sejumlah titik jalan, termasuk ruas strategis penghubung Kota Padang dan Bukittinggi melalui kawasan Malalak, Kabupaten Agam.
Material tanah, bebatuan, dan pepohonan menutup badan jalan, membuat akses transportasi lumpuh total. Kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas. Aktivitas warga pun terhenti, terutama distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok.
Di tengah kondisi tersebut, PT Hutama Karya (Persero) bergerak cepat. Melalui anak usahanya PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI), perusahaan BUMN ini mengerahkan puluhan alat berat untuk membuka kembali akses jalan yang tertimbun longsor.
Puluhan Alat Berat Dikerahkan ke Lokasi Longsor
Sebanyak 36 unit alat berat dikerahkan ke kawasan terdampak longsor. Alat-alat tersebut terdiri dari excavator, loader, dan unit pendukung lainnya yang difokuskan untuk membersihkan material tanah dan bebatuan.
Supervisor Health, Safety, Security, and Environment PT HKI, Budi Setia Prayoga, menjelaskan bahwa pengerahan alat berat dilakukan untuk membuka kembali jalur alternatif Padang–Bukittinggi yang tertimbun di kawasan Malalak hingga Balingka.
“Selain alat berat, kami juga mengerahkan ratusan petugas di lapangan untuk mempercepat pembukaan akses yang tertutup material longsor,” ujarnya di Lubuk Basung.
Langkah ini dilakukan sebagai respons cepat agar mobilitas masyarakat dapat kembali berjalan, meski bersifat sementara.
Fokus Penanganan di Ruas Malalak–Balingka
Penanganan difokuskan pada jalur alternatif sepanjang 28 kilometer, mulai dari Malalak Selatan hingga Simpang Balingka. Jalur ini menjadi salah satu akses penting penghubung Padang dan Bukittinggi ketika jalur utama terganggu.
Saat ini, pekerjaan pembukaan jalan telah dimulai di ruas 87, tepatnya dari Simpang Balingka menuju perbatasan Kecamatan Malalak. Dua unit alat berat telah diturunkan di titik ini untuk membersihkan material longsor yang menutup badan jalan.
Sementara itu, alat berat lainnya juga bekerja di kawasan Malalak Selatan, lokasi yang mengalami timbunan tanah cukup tebal akibat longsor.
Lima Titik Jalan Amblas Parah
Berdasarkan hasil pemantauan udara menggunakan drone, HKI mengidentifikasi lima titik jalan dalam kondisi paling parah. Di lokasi-lokasi tersebut, badan jalan mengalami amblas dengan panjang bervariasi.
“Di beberapa titik, jalan yang amblas mencapai panjang sekitar 20 hingga 120 meter. Kondisi ini membuat jalan sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan,” jelas Budi.
Kerusakan tersebut bukan hanya menutup permukaan jalan, tetapi juga mengancam kestabilan struktur tanah di sekitarnya. Hal ini menuntut penanganan ekstra hati-hati agar tidak menimbulkan longsor susulan.
Upaya Membuka Akses Darurat Lebih Dulu
Dalam kondisi darurat seperti ini, HKI memprioritaskan pembukaan akses sementara agar masyarakat bisa kembali melintas. Penanganan permanen akan dilakukan setelah koordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas teknis terkait.
“Untuk saat ini, kami fokus mencari akses agar masyarakat bisa melewati jalan tersebut. Penanganan permanen akan dibahas bersama instansi terkait,” kata Budi.
Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat terputusnya jalur transportasi.
Dampak Langsung terhadap Ekonomi Warga
Terputusnya akses Padang–Bukittinggi memberikan dampak besar bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Jalur ini menjadi penghubung utama distribusi hasil pertanian, perdagangan, serta mobilitas tenaga kerja.
Jika akses tidak segera dibuka, warga terpaksa memutar jauh melalui jalur lain yang memakan waktu dan biaya lebih besar. Kondisi ini berpotensi menekan pendapatan masyarakat, terutama petani dan pedagang kecil.
“Apabila akses tidak dibuka, dampaknya sangat besar terhadap ekonomi masyarakat,” tegas Budi.
Karena itu, pembukaan akses darurat menjadi langkah krusial untuk memulihkan aktivitas warga secara bertahap.
Longsor Dipicu Curah Hujan Tinggi
Bencana longsor di jalur Padang–Bukittinggi ini dipicu oleh curah hujan tinggi yang melanda Kabupaten Agam dan sekitarnya sejak akhir November 2025. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tanah jenuh air dan mudah bergerak.
Kondisi geografis kawasan Malalak yang berbukit dan rawan longsor memperparah dampak bencana. Beberapa ruas jalan alternatif yang sebelumnya sudah rentan akhirnya tidak mampu menahan tekanan tanah dan air.
Koordinasi Lintas Instansi Terus Dilakukan
HKI memastikan seluruh pekerjaan dilakukan dengan mengedepankan aspek keselamatan kerja dan lingkungan. Koordinasi dengan pemerintah daerah, dinas pekerjaan umum, serta aparat setempat terus dilakukan untuk memastikan penanganan berjalan efektif.
Selain membersihkan material longsor, tim di lapangan juga memantau potensi pergerakan tanah lanjutan yang dapat membahayakan petugas maupun pengguna jalan.
Komitmen BUMN Hadir di Saat Darurat
Langkah cepat Hutama Karya dan HKI menunjukkan peran BUMN dalam situasi darurat bencana. Tidak hanya fokus pada proyek strategis nasional, perusahaan juga hadir untuk membantu pemulihan akses masyarakat.
Pengerahan alat berat dan personel ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan infrastruktur dan keselamatan publik, terutama di wilayah rawan bencana.
Harapan Akses Segera Pulih
Dengan upaya yang dilakukan secara intensif, diharapkan akses Padang–Bukittinggi dapat segera terbuka meski bersifat terbatas. Pembukaan jalur ini akan menjadi napas baru bagi warga yang selama beberapa waktu terisolasi akibat longsor.
Pemulihan penuh tentu membutuhkan waktu dan perencanaan matang. Namun, langkah awal membuka akses darurat menjadi fondasi penting agar aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Sumatera Barat dapat kembali bergerak.
Baca Juga : Trafik JTTS Nataru 2025 Naik Tajam, Hutama Karya Siaga
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : iklanjualbeli

