Jalan Penghubung yang Terlupakan
Kerusakan parah ruas Jalan Cipasir di Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, telah lama menjadi keluhan pengguna jalan. Jalur ini bukan sekadar akses lokal, melainkan penghubung penting antara wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Namun ironisnya, meski memiliki fungsi strategis dan intensitas lalu lintas yang cukup tinggi, kondisi jalan tersebut dibiarkan rusak bertahun-tahun tanpa penanganan memadai.
Lubang-lubang besar, permukaan jalan yang hancur, serta genangan air saat hujan menjadi pemandangan sehari-hari. Bagi pengendara roda dua, ruas ini kerap memicu kecelakaan. Sementara bagi kendaraan roda empat, kerusakan jalan meningkatkan risiko kerusakan kendaraan dan memperlambat mobilitas warga.
Inisiatif Warga Cinta Mulya
Kondisi itulah yang akhirnya mendorong warga Desa Cinta Mulya, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, untuk tidak lagi menunggu. Merasa akses penting ini luput dari perhatian pemerintah, warga berinisiatif mengambil langkah swadaya dengan memperbaiki jalan secara mandiri.
Jalan sepanjang kurang lebih 130 meter yang rusak parah tersebut menjadi fokus utama perbaikan. Meski berada di wilayah administratif yang berbeda, warga Cinta Mulya menilai jalan itu memiliki dampak langsung terhadap aktivitas mereka sehari-hari, mulai dari mobilitas kerja, distribusi barang, hingga akses pendidikan dan kesehatan.
Patungan Dana Secara Terbuka
Perbaikan jalan dilakukan melalui penggalangan dana swadaya. Warga mengumpulkan donasi secara terbuka dengan prinsip gotong royong. Setiap kontribusi dicatat dan disampaikan secara transparan agar menumbuhkan rasa percaya di tengah masyarakat.
Tidak hanya warga biasa, sejumlah tokoh masyarakat dan pengusaha lokal turut tergerak memberikan bantuan setelah melihat langsung kondisi jalan. Bantuan datang dalam berbagai bentuk, mulai dari dana tunai, material bangunan, hingga penyediaan alat-alat sederhana untuk pengecoran.
Gotong Royong dari 10 RW
Pelaksana Harian Kepala Desa Cinta Mulya, Bina Ferdiansyah, menjelaskan bahwa gerakan ini berawal dari kepedulian satu orang warga. Kepedulian tersebut kemudian menyebar dan menggerakkan partisipasi luas dari masyarakat.
“Kami membentuk kepanitiaan kecil, melibatkan tokoh masyarakat dan warga dari 10 RW. Alhamdulillah, responsnya luar biasa. Banyak yang tergerak, baik secara materi maupun tenaga,” ujarnya.
Puluhan warga turun langsung ke lapangan. Mereka bahu-membahu mengaduk semen, mengangkut material, dan melakukan pengecoran jalan dengan peralatan seadanya. Suasana kerja bakti ini memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat desa.
Pengecoran dengan Peralatan Sederhana
Perbaikan jalan dilakukan dengan metode pengecoran beton. Meski tanpa alat berat dan teknologi modern, warga berupaya semaksimal mungkin agar hasil perbaikan cukup kuat dan aman dilalui.
Pekerjaan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan ketersediaan dana dan tenaga. Warga juga mengatur waktu kerja agar tidak sepenuhnya mengganggu aktivitas harian mereka, seperti bekerja dan mengurus keluarga.
Murni Swadaya Tanpa Bantuan Pemerintah
Bina Ferdiansyah menegaskan bahwa hingga proses perbaikan berlangsung, belum ada bantuan maupun perhatian resmi dari pemerintah daerah.
“Sampai saat ini belum ada bantuan pemerintah. Ini murni swadaya masyarakat. Bahkan puluhan warga turun langsung gotong royong memperbaiki jalan,” tegasnya.
Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan warga, sekaligus menjadi kritik halus terhadap lemahnya respons pemerintah dalam menangani infrastruktur dasar yang berdampak langsung pada keselamatan publik.
Dampak Sosial dan Ekonomi Jalan Rusak
Kerusakan Jalan Cipasir tidak hanya berdampak pada kenyamanan berkendara, tetapi juga pada aktivitas ekonomi warga. Jalan ini merupakan akses penting bagi pedagang, petani, dan pekerja harian yang keluar-masuk wilayah Bandung dan Sumedang.
Ketika jalan rusak, biaya transportasi meningkat, waktu tempuh menjadi lebih lama, dan risiko kecelakaan bertambah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi lokal dan memperlebar kesenjangan pelayanan infrastruktur antarwilayah.
Potret Ketahanan Sosial Masyarakat
Aksi swadaya warga Cinta Mulya menjadi potret ketahanan sosial masyarakat desa. Di tengah keterbatasan dan minimnya perhatian, warga memilih bergerak bersama daripada menunggu tanpa kepastian.
Namun, inisiatif ini juga menyimpan ironi. Gotong royong seharusnya menjadi pelengkap pembangunan, bukan pengganti tanggung jawab negara dalam menyediakan infrastruktur dasar yang layak dan aman.
Harapan ke Depan
Warga berharap aksi swadaya ini menjadi pemantik perhatian pemerintah daerah agar segera turun tangan secara menyeluruh. Perbaikan sementara yang dilakukan warga tentu tidak cukup untuk jangka panjang, terutama untuk jalan penghubung antarwilayah yang memiliki beban lalu lintas cukup tinggi.
Masyarakat berharap ke depan ada koordinasi lintas kabupaten serta alokasi anggaran yang jelas untuk perbaikan infrastruktur di kawasan perbatasan administratif, agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Penutup
Perbaikan jalan sepanjang 130 meter oleh warga Desa Cinta Mulya bukan sekadar kerja bakti biasa. Ia adalah cermin kepedulian, solidaritas, sekaligus kritik sosial terhadap minimnya perhatian pada infrastruktur dasar. Gotong royong berhasil menambal lubang di jalan, tetapi tanggung jawab negara tetap dibutuhkan untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan warga secara berkelanjutan.
Baca Juga : Banjir di Jalan DI Panjaitan Jaktim Picu Kemacetan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : capoeiravadiacao

