Trump Umumkan Tarif Baru Terkait Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan perdagangan agresif dengan memberlakukan tarif sebesar 25 persen terhadap negara mana pun yang tetap melakukan transaksi bisnis dengan Iran. Pengumuman tersebut disampaikan melalui platform media sosial Truth Social dan dinyatakan akan segera berlaku tanpa pengecualian.
Trump menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat final. Setiap negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Teheran akan dikenai tarif tambahan atas seluruh aktivitas perdagangan mereka dengan Amerika Serikat. Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam tekanan ekonomi Washington terhadap Iran.
Latar Belakang Represi Demonstrasi Nasional
Kebijakan tarif tersebut diumumkan di tengah meningkatnya kecaman internasional terhadap tindakan keras pemerintah Iran dalam merespons gelombang demonstrasi nasional. Aksi protes yang meluas di berbagai kota dilaporkan berujung pada korban jiwa dalam jumlah besar, memicu sorotan global terhadap situasi hak asasi manusia di negara tersebut.
Lembaga swadaya masyarakat Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia melaporkan sedikitnya 648 orang tewas selama rangkaian demonstrasi. Korban tersebut termasuk anak-anak di bawah umur. Namun, organisasi itu memperingatkan bahwa angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena pemutusan akses internet secara nasional menghambat proses verifikasi independen.
Dugaan Korban Jauh Lebih Besar
Menurut sejumlah estimasi, jumlah korban jiwa akibat represi aparat Iran berpotensi melampaui 6.000 orang. Selain korban tewas, otoritas Iran juga dilaporkan telah menangkap sekitar 10.000 orang yang terlibat atau diduga terkait aksi unjuk rasa.
Situasi ini memperkuat narasi Washington bahwa tindakan Teheran telah melampaui batas. Pemerintah AS menilai tekanan ekonomi perlu ditingkatkan untuk memaksa perubahan sikap rezim Iran terhadap warganya sendiri.
Gedung Putih Tak Tutup Opsi Militer
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa meskipun diplomasi tetap menjadi prioritas utama, opsi militer masih berada di atas meja. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak menutup kemungkinan langkah terakhir berupa serangan udara jika kekerasan terhadap demonstran sipil terus berlanjut.
Pernyataan ini memperkuat kesan bahwa kebijakan tarif hanyalah salah satu instrumen tekanan dalam spektrum kebijakan yang lebih luas, mencakup diplomasi, sanksi ekonomi, hingga potensi aksi militer.
Respons Keras dari Pimpinan Iran
Menanggapi tekanan internasional, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei mengklaim bahwa rezimnya telah memenangkan pertempuran melawan apa yang ia sebut sebagai campur tangan asing. Ia menunjuk aksi unjuk rasa pro-pemerintah yang dihadiri ribuan orang sebagai bukti dukungan rakyat terhadap pemerintahan saat ini.
Khamenei menuduh bahwa gelombang protes nasional merupakan hasil rekayasa pihak luar yang dijalankan oleh “tentara bayaran domestik”. Narasi ini digunakan untuk membenarkan tindakan keras aparat keamanan terhadap para demonstran.
Parlemen Iran Sebut Perang Empat Front
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan negaranya tengah menghadapi perang di empat front sekaligus. Ia menyebut perang ekonomi, perang psikologis, ancaman militer dari Amerika Serikat dan Israel, serta konflik melawan kelompok yang ia labeli sebagai teroris di dalam negeri.
Ghalibaf bersumpah akan memberikan “pelajaran yang tidak terlupakan” kepada Trump jika Amerika Serikat melancarkan serangan langsung terhadap Iran. Pernyataan ini menambah ketegangan retorika di antara kedua negara.
Saluran Komunikasi Tertutup Tetap Terbuka
Di tengah eskalasi tekanan dan retorika keras, terdapat sinyal bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi adanya komunikasi terbuka antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff.
Keberadaan saluran komunikasi ini menunjukkan bahwa di balik tekanan publik, masih ada upaya diplomatik untuk mencegah eskalasi konflik menjadi konfrontasi terbuka.
Tekanan Internasional Terus Meningkat
Selain Amerika Serikat, tekanan terhadap Iran juga datang dari berbagai aktor global. European Union tengah mempertimbangkan sanksi tambahan dan telah melarang diplomat Iran memasuki gedung Parlemen Eropa. Langkah ini mempertegas isolasi diplomatik yang semakin dirasakan Teheran.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras kekerasan negara terhadap warga sipil Iran. Sebaliknya, Rusia membela Teheran dengan menentang segala bentuk campur tangan asing dalam urusan internal Iran, memperlihatkan perpecahan sikap di tingkat global.
Dampak Global Kebijakan Tarif Trump
Pemberlakuan tarif 25 persen terhadap negara mitra dagang Iran berpotensi memicu dampak luas pada peta perdagangan global. Negara-negara yang memiliki kepentingan ekonomi dengan Iran kini dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan hubungan dagang dengan Teheran atau menghindari sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
Kebijakan ini juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi dan hubungan diplomatik lintas kawasan, mengingat Iran merupakan salah satu pemain penting di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi atau Titik Balik
Langkah Trump menandai fase baru dalam konfrontasi Amerika Serikat–Iran. Di satu sisi, tekanan ekonomi dan diplomatik meningkat tajam. Di sisi lain, masih terdapat jalur komunikasi yang memberi harapan pada solusi non-militer.
Apakah kebijakan tarif ini akan memaksa Iran mengubah sikap atau justru memperdalam konflik, masih menjadi tanda tanya besar. Yang jelas, keputusan ini mempertegas bahwa isu Iran kembali menjadi salah satu titik panas utama dalam politik dan ekonomi global.
Baca Juga : Mulai Rp1,4 Juta, Emas Antam Imlek 2026 Bertema Kuda
Cek Juga Artikel Dari Platform : museros

