Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menjadi pusat perhatian dalam sebuah upacara adat yang sarat makna. Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo menggelar peringatan 100 hari wafatnya Pakubuwono XIII di Sasana Handrawina pada Senin, 9 Februari 2026.
Upacara ini bukan sekadar ritual peringatan, melainkan momentum penting dalam tradisi Jawa yang menandai perjalanan spiritual sekaligus kesinambungan sejarah keraton.
Dalam budaya Jawa, perhitungan hari wafat seseorang memiliki nilai sakral. Peringatan 100 hari dikenal sebagai salah satu fase penting dalam rangkaian doa untuk almarhum, sekaligus pengingat bahwa kehidupan dan kepemimpinan dalam keraton terus berlanjut.
Upacara Digelar Siang Hari Demi Hitungan Jawa
Ketua LDA Keraton Solo, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari atau yang dikenal sebagai Gusti Moeng, menjelaskan bahwa upacara digelar pada siang hari agar tidak melewati perhitungan waktu dalam kalender Jawa.
Menurutnya, jika acara dilakukan setelah jam tertentu, maka secara hitungan Jawa sudah dianggap masuk hari berikutnya.
โHari ini pas tepat 100 hari wafatnya PB XIII. Makanya saya minta siang hari ini supaya tidak lewat hari. Kalau sudah lewat jam 3 hitungan Jawa sudah hari yang lain,โ ujar Gusti Moeng.
Pernyataan ini menunjukkan betapa tradisi keraton masih sangat memegang teguh perhitungan adat dan filosofi Jawa yang diwariskan turun-temurun.
Makna 100 Hari dalam Tradisi Jawa
Peringatan 100 hari wafat merupakan bagian dari rangkaian tradisi tahlilan dan doa yang dikenal luas dalam budaya Jawa.
Tradisi ini tidak hanya dilakukan dalam keluarga masyarakat umum, tetapi juga memiliki bentuk khusus dalam lingkungan keraton.
Bagi keraton, peringatan seperti ini menjadi momen spiritual sekaligus simbol penghormatan terhadap pemimpin yang telah wafat.
Pakubuwono XIII bukan hanya seorang raja, tetapi juga simbol budaya dan sejarah panjang Kasunanan Surakarta.
Karena itu, peringatan 100 hari wafatnya menjadi momen penting untuk mendoakan almarhum sekaligus memperkuat harapan agar keraton tetap membawa kebaikan bagi masyarakat.
Harapan untuk Keraton Kasunanan Surakarta
Dalam kesempatan tersebut, Gusti Moeng berharap peringatan ini membawa keberkahan dan kebaikan bagi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Keraton bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga pusat kebudayaan Jawa yang memiliki peran penting dalam menjaga tradisi, seni, dan nilai-nilai luhur.
Upacara ini menjadi pengingat bahwa meski zaman terus berubah, keraton tetap menjadi simbol identitas budaya yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Solo dan sekitarnya.
Penegasan Penerus Takhta: KGPH Mangkubumi
Selain menjadi peringatan wafat, acara ini juga membawa pesan penting terkait kesinambungan kepemimpinan keraton.
Gusti Moeng menegaskan bahwa penerus Pakubuwono XIII adalah putra laki-laki sulung, yakni KGPH Hangabehi yang juga dikenal sebagai Bendoro Raden Mas Suryo Suharto atau Mangkubumi.
Penegasan ini menjadi sorotan karena persoalan suksesi di lingkungan keraton sering kali menjadi perhatian publik.
Dengan pernyataan tersebut, LDA ingin menegaskan arah penerus takhta Kasunanan Surakarta demi menjaga stabilitas adat dan kelangsungan tradisi.
KGPH Mangkubumi sebagai Simbol Generasi Penerus
KGPH Mangkubumi dipandang sebagai simbol penerus generasi baru dalam sejarah keraton.
Dalam tradisi kerajaan Jawa, putra sulung laki-laki memiliki posisi penting sebagai penerus garis utama kepemimpinan.
Penegasan takhta ini bukan hanya soal jabatan, tetapi juga soal tanggung jawab besar untuk menjaga warisan budaya.
Seorang penerus takhta harus mampu membawa keraton tetap relevan di tengah modernisasi, sekaligus menjaga nilai-nilai luhur yang sudah berusia ratusan tahun.
Keraton Solo di Tengah Dinamika Zaman
Keraton Kasunanan Surakarta merupakan salah satu institusi budaya tertua di Indonesia.
Meski tidak lagi memiliki kekuasaan politik seperti masa lalu, keraton tetap memegang peran penting dalam bidang budaya, pariwisata, dan pelestarian tradisi Jawa.
Upacara adat seperti peringatan 100 hari wafatnya raja menjadi bukti bahwa keraton masih hidup sebagai pusat tradisi.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan keraton menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menjaga identitas budaya Jawa agar tetap lestari.
Ritual Adat sebagai Penguat Identitas Budaya
Bagi masyarakat Jawa, ritual adat bukan sekadar seremoni, tetapi bagian dari filosofi kehidupan.
Tradisi peringatan wafat seperti 100 hari menunjukkan penghormatan kepada leluhur dan keyakinan bahwa doa serta penghargaan terhadap sejarah adalah bagian penting dari keberlangsungan kehidupan.
Keraton Solo dengan segala tradisinya menjadi contoh bagaimana budaya dapat terus bertahan meski dunia terus berubah.
Upacara ini juga memperlihatkan bahwa keraton bukan hanya milik keluarga bangsawan, tetapi juga bagian dari warisan budaya bangsa Indonesia.
Kesimpulan: Tradisi dan Suksesi dalam Keraton Solo
Peringatan 100 hari wafatnya Pakubuwono XIII menjadi momen penting bagi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Upacara yang digelar di Sasana Handrawina tidak hanya menjadi bentuk penghormatan spiritual, tetapi juga simbol kesinambungan sejarah keraton.
Dalam kesempatan itu, LDA Keraton Solo menegaskan bahwa KGPH Mangkubumi sebagai putra sulung laki-laki adalah penerus takhta PB XIII.
Momentum ini menjadi penanda bahwa tradisi, nilai budaya, dan garis kepemimpinan keraton terus berjalan, membawa harapan agar Keraton Solo tetap menjadi pusat kebudayaan Jawa yang hidup dan bermakna bagi generasi mendatang.
Baca juga : https://cctvjalanan.web.id/susno-duadji-nilai-kasus-riza-chalid-baru-bergerak/
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritajalan

