Akses Lebih Cepat, Harapan Baru bagi Warga
Wajah konektivitas wilayah Tulung Selapan menuju Palembang kini berubah drastis. Jika sebelumnya perjalanan bisa memakan waktu hingga belasan jam akibat kondisi jalan rusak parah, saat ini jarak tempuh dari Tulung Selapan ke Palembang hanya sekitar tiga jam. Perubahan ini menjadi kabar gembira bagi ribuan warga yang selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan jalan berlumpur dan sulit dilalui.
Perbaikan dilakukan melalui pengecoran beton dan pengaspalan di sejumlah ruas vital yang sebelumnya dikenal sebagai “kubangan lumpur”. Meski pembangunan belum sepenuhnya rampung, dampaknya sudah sangat terasa, terutama bagi aktivitas ekonomi, distribusi barang, serta mobilitas masyarakat sehari-hari.
Jalan Rusak Puluhan Tahun, Kini Mulai Teratasi
Selama bertahun-tahun, jalan Tulung Selapan–Palembang menjadi keluhan utama warga. Beberapa titik mengalami kerusakan ekstrem, terutama di ruas Lebung Batang–Lebung Itam dan Lebung Itam–Tulung Selapan. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur tebal yang kerap membuat kendaraan terjebak berjam-jam bahkan berhari-hari.
Kondisi ini tidak hanya menyulitkan warga, tetapi juga mengisolasi kawasan Tulung Selapan dari pusat ekonomi dan pemerintahan. Biaya logistik melonjak, harga barang menjadi mahal, dan akses layanan publik seperti kesehatan dan pendidikan ikut terdampak.
Kini, dengan dilakukannya pengecoran beton dan pengaspalan, wajah jalan tersebut perlahan berubah. Permukaan jalan yang sebelumnya licin dan berlubang kini lebih rata dan kokoh, memungkinkan kendaraan melaju dengan aman dan stabil.
Kisah Warga: Dari 12 Jam Jadi 3 Jam
Dampak perbaikan jalan ini tergambar jelas dari pengalaman warga. Erni, seorang pedagang asal Tulung Selapan Ilir, menceritakan pahitnya perjalanan sebelum jalan diperbaiki.
“Pernah perjalanan dari Tulung Selapan ke Palembang sampai 12 jam. Berangkat jam tujuh pagi, baru sampai rumah jam sepuluh malam,” ujarnya.
Sebagai pedagang, keterlambatan ini sering berujung kerugian. Setibanya di Palembang, banyak toko sudah tutup sehingga ia harus pulang tanpa hasil. Ongkos transportasi terbuang, tenaga terkuras, dan pendapatan pun tergerus.
Kini, dengan waktu tempuh hanya sekitar tiga jam, aktivitas perdagangan menjadi jauh lebih efisien. Warga bisa berangkat pagi dan pulang di hari yang sama tanpa rasa khawatir terjebak di jalan.
Beban Biaya Pedagang Mulai Berkurang
Pengalaman serupa dirasakan Nurhaya (54), pedagang Pasar Tulung Selapan. Ia mengaku selama bertahun-tahun harus menanggung biaya tambahan akibat kerusakan jalan.
“Kerugiannya sudah tidak terhitung. Pernah air minum isi ulang satu tangki terpaksa dibuang karena mobil tidak bisa lewat,” katanya.
Kerusakan jalan kerap membuat kendaraan pengangkut barang terjebak lumpur. Akibatnya, barang dagangan rusak, basi, atau tidak sampai ke tujuan. Kondisi ini membuat harga jual naik dan daya saing pedagang lokal melemah.
Dengan jalan yang kini lebih layak, biaya transportasi menurun dan risiko kerusakan barang dapat ditekan. Hal ini memberi napas baru bagi pedagang kecil yang selama ini menjadi kelompok paling terdampak.
Tinjauan Pemerintah Daerah
Perbaikan jalan Tulung Selapan–Palembang mendapat perhatian langsung dari Herman Deru, Gubernur Sumatera Selatan, bersama Bupati Ogan Komering Ilir Muchendi. Dalam kunjungannya, keduanya mendengarkan langsung keluhan dan pengalaman warga yang selama ini harus menghadapi kondisi jalan ekstrem.
Menurut pemerintah daerah, perbaikan infrastruktur ini menjadi bagian dari upaya pemerataan pembangunan, terutama di wilayah pesisir dan rawa yang selama ini tertinggal secara aksesibilitas. Jalan yang baik dinilai sebagai kunci membuka isolasi wilayah dan mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Perbaikan jalan ini tidak hanya memangkas waktu tempuh, tetapi juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Akses yang lebih cepat memungkinkan hasil pertanian, perikanan, dan perdagangan lokal lebih mudah dipasarkan ke Palembang dan daerah lain.
Selain itu, mobilitas masyarakat meningkat. Warga kini lebih mudah mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan administrasi pemerintahan. Anak-anak sekolah tidak lagi terlambat akibat jalan rusak, dan pasien darurat dapat dirujuk ke rumah sakit di Palembang tanpa hambatan ekstrem.
Dari sisi sosial, perasaan terisolasi yang selama ini dirasakan warga mulai berkurang. Jalan yang mulus memberi rasa keadilan pembangunan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski perubahan sudah terasa, warga berharap proyek perbaikan jalan ini dapat diselesaikan sepenuhnya dan dirawat secara berkelanjutan. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa jalan yang dibangun tanpa pemeliharaan rutin berisiko kembali rusak, terutama di wilayah rawa dan tanah lunak seperti Tulung Selapan.
Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memastikan kualitas konstruksi, sistem drainase yang baik, serta pengawasan terhadap kendaraan bermuatan berat yang berpotensi merusak jalan.
Penutup
Perjalanan Tulung Selapan–Palembang yang kini hanya ditempuh sekitar tiga jam menjadi simbol perubahan besar bagi masyarakat Ogan Komering Ilir. Dari jalan berlumpur yang memakan waktu hingga 12 jam, kini terbuka akses yang lebih manusiawi, efisien, dan produktif.
Bagi warga seperti Erni dan Nurhaya, jalan mulus bukan sekadar infrastruktur, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih layak. Jika perbaikan ini dijaga dan dilanjutkan, Tulung Selapan bukan lagi daerah terisolasi, melainkan bagian aktif dari denyut ekonomi Sumatera Selatan.
Baca Juga : Implementasi Kebijakan Pemeliharaan Jalan dan Mobilitas Perkotaan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : ketapangnews

