cctvjalanan.web.id Kondisi pengelolaan sampah di Provinsi Gorontalo kembali menjadi sorotan setelah kapasitas Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Regional Talumelito disebut hampir mencapai ambang batas. Isu ini mengemuka dalam forum refleksi ekonomi daerah yang membahas keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi, peningkatan jumlah penduduk, dan lonjakan timbulan sampah di wilayah perkotaan maupun kabupaten sekitar.
Akademisi dan pakar kebijakan publik, Sukirman Rahim, mengungkapkan bahwa sel TPA Regional Talumelito yang sebelumnya dirancang memiliki daya tampung hingga beberapa tahun ke depan kini menghadapi ancaman kelebihan kapasitas dalam waktu jauh lebih singkat. Kondisi ini menandakan adanya persoalan struktural dalam sistem pengelolaan sampah regional.
Lonjakan Timbulan Sampah Jadi Faktor Utama
Dalam kajiannya, Prof. Sukirman menjelaskan bahwa meningkatnya volume sampah berasal dari aktivitas masyarakat di Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, dan Bone Bolango. Pertumbuhan penduduk yang diikuti dengan peningkatan konsumsi dan aktivitas ekonomi berdampak langsung pada jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari.
Awalnya, sel TPA dibangun dengan proyeksi umur teknis yang relatif panjang. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa laju timbunan sampah jauh melampaui perhitungan awal. Akibatnya, usia pakai TPA terancam menyusut drastis dan berpotensi penuh dalam waktu satu hingga dua tahun ke depan.
Peran TPST 3R Dinilai Belum Optimal
Selain tingginya volume sampah, Prof. Sukirman menyoroti belum optimalnya peran Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) 3R di beberapa wilayah. TPST yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pemilahan dan pengolahan awal sampah justru belum berfungsi maksimal sesuai harapan.
Minimnya aktivitas pemilahan dan pengurangan sampah di tingkat kota dan kabupaten menyebabkan hampir seluruh sampah langsung dikirim ke TPA Regional. Kondisi ini mempercepat penuhya sel TPA karena tidak ada proses pengurangan volume sejak dari sumbernya.
Menurut Prof. Sukirman, sistem pengelolaan sampah yang hanya bertumpu pada TPA tanpa penguatan pemrosesan awal adalah pendekatan yang tidak berkelanjutan. Tanpa perbaikan menyeluruh, persoalan kapasitas TPA hanya akan berulang di masa depan.
Pertumbuhan Ekonomi dan Dampak Lingkungan
Sejalan dengan pandangan tersebut, Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Wahyudin Katili, menyampaikan bahwa meningkatnya timbulan sampah merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah.
Menurutnya, kemajuan pembangunan sering kali tidak disadari membawa dampak lingkungan yang signifikan, salah satunya peningkatan volume sampah. Aktivitas ekonomi yang semakin dinamis mendorong konsumsi yang lebih tinggi, sehingga produksi sampah pun ikut meningkat.
Namun demikian, Wahyudin menegaskan bahwa dampak tersebut seharusnya diantisipasi melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas wilayah. Penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak atau satu fasilitas semata.
Kolaborasi Regional Jadi Kunci
Pemerintah Provinsi Gorontalo menyatakan komitmennya untuk berupaya meningkatkan kapasitas TPA Regional Talumelito. Namun, langkah ini dinilai tidak akan efektif tanpa diiringi perbaikan sistem pengelolaan sampah di tingkat kabupaten dan kota.
Wahyudin menekankan pentingnya pemrosesan dan pemilahan awal di TPST 3R, terutama di wilayah perkotaan dengan produksi sampah tinggi. Dengan pemilahan yang baik, sampah yang masuk ke TPA dapat dikurangi secara signifikan, sehingga memperpanjang umur operasional fasilitas tersebut.
Kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan masyarakat menjadi kunci utama. Setiap pihak memiliki peran penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Pemberdayaan Masyarakat dan Daur Ulang
Lebih jauh, Wahyudin menilai bahwa penguatan TPST 3R tidak hanya berdampak pada pengurangan volume sampah, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat. Pemilahan dan daur ulang sampah dapat menciptakan nilai ekonomi baru, sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan di tingkat akar rumput.
Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penghasil sampah, tetapi juga bagian dari solusi. Kemandirian dalam mengelola sampah rumah tangga dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada TPA sebagai solusi akhir.
Ancaman Jika Tidak Ada Perubahan
Jika kondisi saat ini dibiarkan tanpa intervensi serius, TPA Regional Talumelito berpotensi mengalami krisis kapasitas. Dampaknya tidak hanya berupa persoalan teknis, tetapi juga berisiko menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Penumpukan sampah yang tidak tertangani dengan baik dapat memicu pencemaran tanah, air, dan udara. Selain itu, konflik sosial terkait lokasi pembuangan sampah juga berpotensi muncul jika kapasitas TPA tidak lagi mampu menampung timbulan harian.
Mendorong Transformasi Pengelolaan Sampah
Kondisi ini menjadi momentum penting bagi Gorontalo untuk melakukan transformasi pengelolaan sampah secara menyeluruh. Pendekatan berbasis pengurangan dari sumber, optimalisasi TPST 3R, serta peningkatan kesadaran masyarakat harus berjalan beriringan.
Dengan langkah strategis dan kolaboratif, ancaman penuhya TPA Regional Talumelito dapat ditekan. Pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mendukung kualitas hidup masyarakat dan keberlanjutan pembangunan daerah.

Cek Juga Artikel Dari Platform revisednews.com
